Tentang Tenun Yoga Art Klaten
SELAYANG PANDANG TENUN YOGA ART KLATEN
Oleh : KRT Sandiyo, S.E., M.M., M.H.
Tenun Yoga Art adalah usaha seni budaya tenun tradisional dengan cara manual (ATBM) Alat tenun bukan mesin. Lahir ditengah keprihatinan memburuknya situasi proses budaya turun-menurun di masyarakat, dimana saat proses produksi harus melibatkan kaum paruh baya. Bidang ini tidak banyak diminati oleh kaum muda karenan prosesnya yang rumit atau dalam Bahasa jawa disebut njlimet dan daya saing produk yang rendah. Pada tahun 2003 Pasar Tanah Abang mengalami kebakaran dimana Pasar Tanah Abang merupakan tempat menampung penjualan batik dan tenun tradisional terbesar di Jakarta. Dengan adanya kebakaran di Pasar Tanah Abang banyak sentra tenun yang mandeg atau berhenti berjualan, disaat yang sama Bapak Sandiyo Selaku Owner Tenun Yoga Art sedang bekerja sebagai Manager di sebuah perusahaan Retail terbesar di kota Pekalongan yang notabenya nasabahnya dari sentra itu, sehingga harus membuat terobosan untuk membantu pemasaranya supaya nasabah bisa bangkit untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan menjalankan kewajibanya. Hal yang dilakukan penulis yaitu dengan membeli produk-produknya dan membuat pemasaran di area Solo, Klaten dan Jogja. Bapak Sandiyo tersentak ketika mengetahui bahwa ditempat kelahiranya ada banyak sentra tenun tradisional yang macet, dengan adanya hal itu maka berkelilinglah ke wilayah Pedan, Cawas, Bayat, Juwiring, Ceper dan Delanggu dimana daerah tersebut merupakan sentra tenun tradisional, namun yang didapati lebih parah dari kota Pekalongan yang hanya kehilangan pemasaranya di Pasar Tanah Abang.
Hal yang ditemui Bapak Sandiyo yaitu keadaan beberapa pengrajin yang dulunya memiliki usaha besar, waktu itu hanya menjalankan tenunya 3-5 unit. Banyak pengrajin yang tutup dan sudah gulung tikar. Pengrajin-pengrajin rumahan yang punya 1-3 tenun masih banyak di dapati sedang mengerjakan pembuatan serbet untuk lap makan. Mereka bertahan lantaran diandalkan untuk menambah sampingan diluar kesibukan bertani di sawah.
Bapak Sandiyo tergerak untuk menelitinya lebih jauh dan mengambil kesimpulan bahwa budaya tenun ini harus tetap hidup dan jaya, karena didalamnya memuat seni tersendiri untuk melakoninya, unik dan terdapat potensi besar untuk menyerap sumber daya manusia. Walaupun untuk pengembanganya banyak hambatan yang harus dilalui.
Tahun 2004 ketika usaha membuahkan hasil Bapak Sandiyo bertekat untuk menekuni dan mengembakanya. Pada waktu pengembangan upaya ini dicium oleh pemerintah melalui potensi dan promosi DISPERINDAGKOP dan PM (Penanaman Modal) untuk dibantu promosi yaitu dengan mengikuti pameran-pameran local dan nasional seperti PRJ, PRPP, KAB. EXPO, INACRAFT, SMESCO, JOGJA FASHION WEEK DAN PAMERAN KAIN.
